PENALOMBOK – Isu keretakan hubungan ditubuh pendukung Haerul Warisin dan Edwin Hadiwijaya kian terbuka lebar. Bahkan semakin memanas setelah keputusan menunjuk MJT sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) disebut menjadi “bom waktu” yang kini mulai meledak di internal kekuasaan.
Salah satu tim sukses HW yang meminta identitasnya dirahasiakan secara blak-blakan menyebut, langkah tersebut bukan sekadar keputusan administratif, melainkan kesalahan politik fatal yang berpotensi menggerus basis kekuatan utama.
“Ini bukan lagi soal jabatan. Ini soal rasa pengkhianatan,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, kemenangan HW–Edwin pada Pilkada sebelumnya ditopang oleh kekuatan besar dari berbagai lini. Birokrasi disebut menyumbang hingga 15 persen suara, militansi basis HW sekitar 12 persen, kekuatan personal Edwin di angka 7 hingga 8 persen, serta suara mengambang sekitar 4 persen.
“Namun kini, pilar-pilar itu mulai runtuh satu per satu,” ujarnya.
Dari sisi birokrasi, kata sumber media ini, dukungan yang dulu solid kini pecah. Bahkan, menurutnya, potensi pembelahan bisa lebih besar dari kekuatan awal yang dulu mengantarkan kemenangan.
“Dulu mereka jadi tulang punggung. Sekarang justru jadi titik pecah paling keras,” ujarnya.
Kemarahan juga disebut datang dari barisan militan HW. Mereka merasa dikhianati karena figur yang selama ini dianggap sebagai lawan justru diberi “karpet merah” masuk ke lingkaran inti kekuasaan.
“Orang yang dulu dilawan, sekarang dirangkul. Sementara yang berdarah-darah ditinggal. Wajar kalau mereka marah,” katanya.
Akibatnya, basis militan yang dulu diperkirakan mencapai 12 persen kini disebut menyusut drastis, bahkan berpotensi tinggal di bawah 5 persen.
Situasi ini, ironisnya, justru membuka peluang lahirnya kekuatan tandingan dari dalam. Para pendukung saat ini mencari titik kumpul baru bagi kelompok yang kecewa, baik dari kalangan birokrat maupun militan lama.
“Jangan kaget kalau nanti yang kecewa ini berkumpul dan membentuk poros baru. Itu sangat mungkin terjadi,” ungkapnya.
Ia bahkan memperingatkan, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin kekuatan politik HW akan mengalami penurunan tajam pada kontestasi berikutnya.
“Politik itu soal kepercayaan. Begitu basis fanatik merasa dikhianati, jatuhnya bukan pelan-pelan, akan tetapi bisa langsung hancur,” tambahnya.
“Cukup 1 periode saja, untuk periode ke 2 kami sudah menabuh genderang perang sebagai gerbong perlawanan,” pungkasnya.***
